Keluhan

Beberapa pekan ini menjadi pekan crowded yang mengajarkan makna mengeluh bagi diri ini. Bermula dari memutuskan untuk tidak mengaktifkan jejaring sosial media fast response yang kini sudah berumur 3 minggu, kemudian menjadi anak perpustakaan pusat dari menyapa pagi hingga berpamitan di malam hari, dan terakhir menjadi manusia yang egois akan lingkungan sekitar.

Semua berasal dari kata skripsi, yang ingin saya persembahkan menjadi karya terbaik selama kuliah -sudah 5 tahun ini kepada jurusan hingga orang tua di rumah. Setelah mendengar permintaan dosen pembimbing untuk lulus di periode November 2015 ini, saya pun melakukan pekerjaan skripsi tanpa mengenal waktu dan kesehatan.

Kurang lebih seminggu yang lalu pun menjadi tampukkan yang kuat kepada diri ini, dalam perjalanan pulang menuju kontrakan, saya tetiba sesak nafas yang sangat berat, kepala semakin berat, dan badan lebih lemas dari biasanya. Hingga mimisan pun menjadi faktor penguat, saya harus berobat. Ini keluhan pertama.

Dilanjutkan saat mulai memasuki fase konsultasi penulisan kepada dosen pembimbing, ternyata apa yang dikonsep awal bersama dengan dosen pembimbing pertama ada terdapat perbedaan yang cukup signifikan, dan pada akhirnya harus diminta belajar kembali, waktu untuk pra dan pendadaran pun menipis, akankah november, entahlah. Ini keluhan kedua.

Dan terakhir, saat dimana sekitarmu menjadi musuhmu karena kebaikan yang kamu kira baik. Kawan-kawanku menjadi judes seketika, tak peduli yang sesuai ekspetasiku, hingga ada yang memintaku untuk tak menghubunginya lagi. Berubah? mungkin. Semua sikapku menjadi ‘segol bacok’, dan ego ini menjadi egois pertamaku. Entahlah, apakah aku bisa bertahan dengan hati yang tak bisa bangkit ini. Keluhan ketiga.

Yaa.. berkeluh. Sudah semaklumnya manusia berkeluh, dan saya baru sadar. Saya salah berkeluh, saya berkeluh pada diri sendiri, bukan pada yang punya diri ini. Ya Rabb.. maafkan yang menjauh saat aku meminta keajaibanmu disetiap doa shalatku yang tak bisa aku jamin akan Engkau terima.

Ya Rabb.. maaf.

Panggilan Toa Masjid

Malam itu menjadi malam yang tak biasanya dari malam lainnya dalam seminggu ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, awal ibadah isya pun sudah lewat dan untuk ibadah tahajud pun masih terhitung lama, namun toa masjid belakang kontrakan mengeluarkan bunyinya.

Dan seisi kontrakan menjadi sunyi dadakan, yang awalnya ramai dengan teriakan adu permainan PES. Mereka melakukan itu hanya untuk ingin mendengar apakah yang akan tersampaikan dari toa yang tua itu.

Dan.. Innalillahiwainalillahirojiun menjadi kata pembuka setelah ucapan salam, sebuah berita lelayu.

Teman.. saya hanya ingin berbagi renungan dalam beberapa pekan ini..

Sebuah pertanyaan sederhana yang tak mungkin kita bisa menjawabnya, bukan karena susah namun kita kehabisan waktu..

Apakah perasaan kita, saat nama kita diucapkan dalam berita lelayu itu?

Dan… jujur saya merasa takut. Bukan, bukan karena tak bernyawa lagi dan tak bisa bernafas dengan oksigen, namun takut karena tak memiliki kesempatan bertaubat kembali..

Ya Rabb.. saya takut.

23 Tahun

Sudah 3 tahun juga untuk memasuki angka 20 di umur yang diberikan. Banyak pake banget momentum yang terlewati, ada yang sedih, senang, memaafkan hingga dikenang.

Tradisi 5 tahun yang lalu di bulan september sih, biasanya mengcompile rasa bahagia di september ceria di saat tanggal 23 hadir. Bagaimana tidak ceria, 3 dari 5 momentum dalam keluarga berada di bulan september ini. Iqbal datang di dunia tanggal 6, mama papa dijodohkan sama penghulu tanggal 22 dan diri ini pun pertanda menuanya di tanggal 23. Ahh jadi kangen, jadi pengen ketemu semua keluarga :’)

Kira-kira setelah 23 tahun ini menapaki dalam beberapa hitungan detik kedepan, aku bisa bermanfaat apalagi yaa buat sekitar. Jujur aja di tahun 2015 atau 1436 H ini, adalah tahun tanpa rancangan, kecuali lulus sarjana di akhir tahun. Amanah pun hadir tanpa rencana, biasa-biasanya merencanakannya, dan jadi tau apa yang akan dibuat saat amanah datang, nah ini hadir tanpa ijin MR ataupun rambu-rambu dari jauh jauh bulan. Yaa.. let it flow, pokoknya bergerak apapun keadaan bergerak.

Loh.. sek. Kok tiba-tiba bahas amanah toh, padahal nulis kali ini pengennya instropeksi gitu. Yaa.. mungkin belum momentumnya datang kali yaak, jadi moodnya belum ngampirin hahaha *alasan* toh harusnya instropeksi diri itu setiap hari jak, bukan satu tahun sekali hahaha😄

Yasudah deh.. pokoknya saya menua dalam beberapa hari kedepan. Dan saya rindu dengan canda tawa teman-temanku saat umur dunia ini bertambah. :’)

Hari Kemerdakaan Negeri Di Atas Awan #1

Awal Agustus 2014 yang lampau, menjadi titik pertemuan dirinya dengan sebuah makna melebur namun mewarnai.

Sebut saja negeri di atas awan, dan tentunya ini bukan negeri sebuah dongeng. Negeri ini nyata. Untuk menuju kesana saja dirinya harus memodifikasi kendaraan beroda duanya menjadi lebih ‘berat’. Jika tidak ia ubah, maka yang terjadi bisa saja masuk jurang, terpeleset hingga harus menemani kendaraan beroda motornya dengan berjalan menanjak jalanan yang melebihi sudut 60 derajat, tidak hanya satu tanjakan, namun berpuluh-puluh. Sungguh, perjuangan ini bukan hanya saja mengawali memasuki negeri ini. Masih banyak yang harus ia lalui, salah satunya ketika Agustus 2014 menyapa. Tetapi dirinya bahagia selalu merindukan masa-masa ini. Yang ia sebut pengabdian kampus, kuliah yang selalu ingin ia ulang di setiap tahunnya.

“Eh, besok sudah masuk awal agustus nih, kita harus nyiapin apa saja buat bertemu dengan 17 nanti ?”

“Bagaimana kalau kita list dulu aja, mau diadakan perang apa saja di negeri ini? Yaa.. tentunya menghasilkan perdamaian abadi setelah kita meninggalkan negeri ini”

“Boleh-boleh.. tetapi jangan lupa, kita harus sowan terlebih dahulu di setiap pemimpin suku disana. Bayangkan saja, kita kesini dengan persediaan bekal yang tak banyak, hanya cukup berduapuluh. Pas dengan jumlah satu tim kita yang ada diatas awan ini“

“Okee.. kalau begitu, mas eja, adhi, bang jo dan acil ke pemimpin suku Debul-Bledeg. Cukup lumayan jauh kesana, kita harus berjalan mendaki melewati lembah, air terjun dan tentunya membawa satu orang yang menjadi ustadz.”

“Ustadz? Emang kenapa harus menjadi ustadz? Dan apakah di tim kita ini memiliki tampang ustadz? Sadarkan kita teman-teman, muka kita muka berandalan semua, bagaimana caranya menjadi ustadz?

“Hmm.. saya mendengar suku diatas sedang mencari ustadz yang mengimami shalat jum’at disana dan tentunya sepaket dengan khutbahnya. Dan inilah momentum merebut simpati si pemimpin suku. Bagaimana bang jo saja? tinggal pakai baju koko dan sarung yang ada di masjid sebelah tuh, lalu dirapihkan sedikit rambutnya. Bagaimana bro? “

“ Eehh.. kok gue toh? loe semua tau kan, gue ini perokok berat, Mana mudah orang-orang disana percaya begitu saja dengan penampilan begini. Walaupun sebenarnya, sebulan disini sudah membuat gue cinta sama negeri ini, mulai dari warganya hingga alam yang terhampar indah ini. Kalau bisa gue bilang, gue ingin juga menancapkan kebaikan disini walaupun sepele. Bayangin saja, kemarin gue hampir saja masuk jurang, kalau tidak ada si Ali, anak dari penjaga negeri ini, mungkin gue bener-bener sudah ‘diatas awan’. “

Nah! Pas kan bang, di atas lagi butuh yang jadi imam shalat dan khutbah. Nanti shalat, bacanya salah dua surah sakti saja. Itu tuh 3 surah paling akhir di Al-Qur’an, pahalanya gede loh bang walaupun sangat kilat pas dibaca. Terus, pas khotbah, isi aja pengumuman perang yang ingin kita lakukan, bawa ke arah solidaritas 17 di bulan Agustus ini, gampang kan bang? setengah jam gak sampai kok. Yayaya, abang tertua kita pasti mau berkorban buat adek-adeknya ini.”

“Baiklah kalau mas fajar* yang meminta, gue minjem buku-buku sakti loe yang katanya turun temurun dari kakek loe. Gue mau baca-baca sebentar untuk nambah kata-kata keren pas khotbah, siapa tau nambah simpati si pemimpin suku Debul-Bledeg itu”

“ Sip bang, ambil aja sesuka abang. Saya merekomendasiin buku yang berjudul “ Menjadi Aktivis, Kenapa Harus Gue? “ karya Riziki Ageng Mardikawati. Recomended deh bang buat nyari kata-kata ketjeh disana”

“ Oke mas, habis rapat ini, jangan ada yang ganggu gue sampai besok yaa.. Gue mau semedi dulu, hari jum’at itu 2 hari masalahnya bro. “

“ Siap bang, kerjaan abang selama semedi, saya yang kerjain deh, disambi nyiapin persiapan perang lainnya”

Salah satu mata dirinya pun mengedip ke fajar, pertanda rekayasa diantara keduanya berhasil. Rekayasa ingin mengubah teman-teman setimnya ini menjadi lebih baik saat pulang dari negeri diatas awan ini. Yang kami sebut, misi tambahan.

terkadang -seharusnya-, kita harus membangun citra dipercaya terlebih dahulu agar apa yang kita sampaikan tak akan mudah orang lain sanggah. Dan ini seharusnya yang terus-menerus dilatih oleh yang memiliki semangat perbaikan, sebut saja aktipis dakwah. Dan saya masih ingin belajar dan diajari hal ini oleh-Nya.

sebuah kisah nyata yang difiksikan, perjalanan Kuliah Kerja Nyata yang selalu diri ini rindukan.

15 Agustus 2015, 3:13 WIB , Yogyakarta

© ejak

Skripsweet #0

Beberapa jam yang lalu, tepatnya jam 10.30 WIB tak disangka akan menjadi kejadian yang ‘memalukan’ bagiku. Bagaimana tidak malu, berada dalam satu ruangan yang isinya 3 orang tua saya di kampus, yang dari ketiganya dalam beberapa hari kedepan saya akan mengikuti ujian remedial beliau-beliau.

“ Wah ada eja, bagaimana ja siap untuk remed besok? “ timpal dosen pertamaku yang juga menjadi dosen pembimbing Skripsweet ini.

“ Hmm.. ini tujuan saya sih bu datang kemari, ingin menanyakan kesalahan saya dalam mengerjakan soal ujian kemarin “ Kilah saya, yang sebenarnya tujuan menjumpai beliau hanya untuk mendapatkan tanda tangan proposal Skripsweet yang akan saya ajukan beberapa hari lagi. Biasa urusan birokrasi jurusan.

Segepok amplop yang berisi ratusan kertas polio bergaris pun beliau berikan, dan dengan cekatan saya pun mencari hasil ujian saya. Dan alhasil, sesuai dugaan nilai yang akan terpampang. Pantasan nilai saya tidak beranjak dari D jika masih saja mendapatkan nilai seperti itu.

Saya pun terdiam sejenak, dikala beliau sedang sibuk mengurusi urusan jurusan yang akan menghampiri akhir tahun, biasa pembukuan akhir tahun. Saya pun tak berharap beliau mau menjelaskan kesalahan saya dimana.

Namun.. tak disangka. Mungkin efek semalam memimpikan pendadaran *sebenarnya tidak ada hubungannya sih* , beliau menawarkan diri terlebih dahulu untuk mengajarkan private soal kemarin di ruangannya. Dan ternyata hanya butuh 30 menit mengerjakan 2 soal yang kemarin saya kerjakan bisa mencapai 1 jam lebih, tertawa mirispun saya lakukan diruangan itu. Sudah jatuh ketimpa rumah. Selama ini saya belajar apa toh, sampai tak mengerti dengan mudah, atau sayanya yang kebanyakan dosa, jadi tertutup ilmu-ilmu kece ini.

“ Nah, mudah toh ja. Masalahmu itu kurang latihan aja ja. Ini pemodelan sederhana, rumusnya pun gampang diinget kan? “ celetuk beliau.

“ hehe.. iya bu.” senyuman malu pun muncul beriringan kedua dosen lainnya masuk ke ruangan untuk mengurusi urusan jurusan yang dibersamai peluru pertanyaan yang tidak hanya sekali diajukan.

“ Nah, ini eja mumpung disini. Bagaimana proposal Tugas Akhirmu? Sudah tinggal masuk pengajaran? “ ini pertanyaan pertama.

“ Untuk matakuliah Perpindahan Panas Dan Massa besok udah siap? open book kok “ ini pertanyaan kedua.

“ Ini eja juga jangan lupa ujian Rangkaian Listrik dan Teknik Kontrol Otomatisnya yaa “ ini pertanyaan ketiga

“ Eja, mau foto seperti ini gak ? *nunjukin foto pak dosen dengan background tulisan Wisuda Teknik Fisika Periode Agustus 2015* “ ini pertanyaan keempat

Kalau saja pertanyaan-pertanyaan ini berupa tawaran ajakan traktiran makan, saya akan menjawab dengan sangat cepat tanpa menunggu jeda. Namun pertanyaan ini, yang lagi saya hindari atau malah tak ingin diingat terlebih dahulu, daaan tentunya dengan wajar dan spontan saya hanya tersenyum tanpa kata untuk menanggapi pertanyaa-pertanyaan itu sebagai ajang formalitas menghargai, walaupun sesungguhnya hati bersedih dengan alasan yang selalu sama, kenapa saya selalu diuji coba di bagian akademik saya, karena untuk satu ini saya selalu kalah, selalu tak bisa mengontrol emosi.

Dengan spontan pun saya memasuki penjelasan kertas-kertas yang sempat dosen pertama jelaskan kedalam tas, sebagai tanda untuk meminta ijin keluar ruangan segera. Namun ternyata Allah berkata lain..

Semua dosen yang hampir dalam waktu bersamaan berkata dengan makna yang sama walaupun beda redaksi yang disampaikan, “ Eja sukses, lulus november pasti bisa, remed ibu doakan lancar, jangan lupa belajar ja “

Dan saat itu pula, saya mau untuk berbicara. Terima kasih pak bu, saya sehabis ini akan ke perpus pusat untuk belajar dan mengerjakan skripsi saya.

Yang awalnya tadi berniat ke kampus hanya untuk mendapatkan tanda tangan dan setelah itu ingin berleha-leha di kontrakan. Namun Allah berkehendak lain. Aura skripsweet ini pun muncul kembali, dibersamai doa-doa yang telah dititipkan ke saya untuk segera jadikan nyata doa tersebut.

Benar kata seseorang,

Jika ingin skripsweetmu selesai, maka datangi tempat asalnya, ya itu di kampus bukan di kontrakanmu. Sama seperti analogi, kalau mau harum mainnya sama penjual parfum bukan sama penjual tukang besi

bismillah, semoga selalu terjaga semangat ini. dan beliau-beliau selalu berada dalam penjagaan-Nya. Amiin.

Perpus Pusat UGM, 10 Agustus 2015
Bersama naskahku.

Malaikat Turun Ke Bumi

Tags

, , ,

Jika akhir ramadhan di tahun ini sesuai perhitungan di awal yaitu tanggal 17 Juli 2015, maka Ramadhan di tahun ini adalah Ramadhan yang memiliki 5 x hari jum’at dan terdiri dari 29 hari bersama-Nya di bulan Ramadhan

Prolog khutbah juma’t hari ini yang membuat diri ini makin tertohok. Betapa Ramadhan kali ini semakin menjauh dari hidup kita. “Akankah kita mengisi waktu sisa ini dengan hal-hal yang akan membuat kita menyesal?” pungkas ustad yang mengisi khutbah tadi.

Malam lailatul qadr, atau yang beliau sebut malam hari rayanya para Malaikat. Dimana Allah memberi kesempatan seluas-luasnya, sebebas-bebasnya kepada seluruh malaikat hingga ke rajanya malaikat -Malaikat Jibril untuk hadir ke Bumi menghampiri para manusia yang sedang memanjatkan ibadah-ibadah apapun dengan ikhlas kepada-Nya.

Seperti halnya manusia ketika bertemu dengan Hari Raya, entah itu idul fitri ataupun idul adha. Kita semua akan menyambutnya dengan sangat bahagia, bisa bertemu dengan keluarga, bisa bersalam-salaman hingga mendapat rejeki dadakan -saat masih kecil. Dan malam terbaik dari seribu bulan itu adalah hari rayanya para malaikat. Hari dimana seluruh permintaan akan langsung diijabah oleh-Nya, dosa diampunin hingga takdir selama satu tahun kedepan bisa diubah (dengan ketentuan Allah takdir yang didunia bukan takdir yang sudah tertulis di lauh mafudz). Dan malaikat-malaikat ini adalah perantaranya. Bayangkan seluruh malaikat turun ke bumi, hingga rajanya pula ikut-ikutan, maka saat itu pula peluang kita akan mendekati 100% untuk mendapatkan malam lailatul qadr, jika kita mau berusaha mencarinya.

Aku merinding mendengar hal ini.. Aku masih merasa sangat banyak dosa yang telah dicatat oleh malaikat kanan kiriku.. Tapi aku sangat ingi meraih malam itu, ingin merayakan bersama para malaikat.. dengan lauk pauk berupa iman yang semakin kuat kepada-Nya.

Kembali pada 29 hari di Bulan Ramadhan tahun ini. Sering kita dengar malam lailatul qadr hadir di 10 hari terkahir Ramadhan dan lebih spesifik di tanggal-tanggal ganjil. Kali ini ustad sedikit memainkan logikanya untuk menyadarkan saya bahwa bukan tanggal ganjil yang harusnya saya kejar, namun 10 hari terkahir itulah yang harus saya sambut dengan cara terbaik.

simplenya seperti ini, jika isi bulan Ramadhan tahun ini tepat 30 hari, maka malam ini (10 Juli 2015) adalah malam ke-9 bulan Ramadhan, namun kalau bulan Ramadhan ini jatuh berisi 29 hari, maka malam ini adalah malam ke-8 bulan Ramadhan. Dan kita belum dapat mengetahui akhir ramadhan jika belum menyentuh tanggal 16 atau 17 juli nanti. Jadi bisa dikatakan 10 hari terkahir Ramadhan adalah kumpulan kesempatan tanggal-tanggal ganjil yang kita akan ketahui jika bertemu di akhir Ramadhan kelak.

Demikian sehingga, jangan pernah mencari di tanggal ganjil jak, luangkanlah di 10 hari terkahir ini…

Yaa.. diri ini masih banyak belajar, harus. Yaa.. Rabb semoga tulisan curhatan ini, bisa menjadi peringatan kepadaku lagi saat bertemu Ramadhan tahun depan (ini doa kepadaMu untuk bisa mempertemukan aku kembali dengan Ramadhan). Semoga aku bisa lebih memahami-Mu, mencintai perintah-Mu dan tidak mengotori semua kegiatan dengan mengatasnamakan nama-Mu.

Jangan dicari, biarkan saya yang mencari-Mu Ya Rabb..

*kalau sempat untuk menulis lagi, akan saya paparin 7 keisitimewaan kenapa malam lailatu qadr itu sangat istimewa, yang disampaikan ustad tadi*

Bandung, 10 Juli 2015
Cijerah, Rumah Ua Tati dan Ua Ade

Kenapa tidak memilih ‘menjadi’?

Kali ini, saya mencoba menjadi parapikiran, alias orang yang (sok) bisa membaca pikiran orang lain. Sebuah obrolan yang mungkin saja selalu terlintas dalam pikiran seorang adam dan hawa. Yaa.. minimal menurut saya, toh ini hidup-hidup saya :p

“Susah mencari wanita solehah di jaman sekarang ini.” – sosok adam

“Susah mencari lelaki soleh di jaman sekarang ini.” – sosok hawa

Sebuah klise sederhana yang mungkin ini tabiat dari sosok manusia. Ia suka mencari bukan membuktikan diri, ia suka diberi bukan memberi.

Bukankah lebih baik kata mencari diatas diubah kata menjadi, dan di balik yang menyatakannya?

Seperti ini:

“Susah menjadi wanita solehah di jaman sekarang ini.” – sosok hawa

“Susah menjadi lelaki soleh di jaman sekarang ini.” – sosok adam

Karena, saat itu kita bisa belajar memaknai kata untuk saling memperbaiki, bukan?

-eror pagi hari :p-

Lalalala Yeyeyeye ~

Aku yakin tak semua kata menunggu adalah kata yang membosankan. Toh, di bulan Ramadhan ini aku selalu menikmati saat awal sahur bergulir hingga bertemu adzan berbuka. Menunggu itu seru, tak selamanya bosan. Toh, itu yang kamu dan Kamu minta.

Kalau kata kakak tingkat sebut saja mba innes tadi siang, saat bertemu yang sesungguhnya ingin hanya membahas job yang diberikan padaku. Eh nyrempet ‘masa depan’. Sudah terlanjur, yasudah cerita deh. Toh, saya bingung hingga saat ini tempat cerita (manusia) yang bisa menanggapi cerita saya dengan objektifitas yang kuat. Dan mba innes pun menjadi tempat cerita. Ohya mba innes sudah menikah, jadi posisinya saya berani karena mba innes juga sudah merasakan kata ‘masa depan’ itu hahaha, kalau kata kajian tiap selasa, kamis dan sabtu itu tuh… Ngaji sama sang ahli. Nah mba innes ahlinya untuk saat ini😄

Beliau menceritakan, bedanya lelaki yang serius dengan perkataannya dan orang yang hanya suka dengan perkataannya adalah tidak meminta menunggu kepada si hawa. Dia akan selalu standby jika si hawa sudah ingin dihampiri dan dijemput dari pangkuan kedua orangtua. Dia berani mengungkapkan yang disertai kata tanggung jawab apapun yang terjadi nanti. Dan itulah yang diinginkan secara general dalam bawah pikiran seorang hawa.

Ah mba innes ini menjabarkannya membuat geer serta was-was tingkat tinggi. Geer apakah jawaban dia adalah pertanda baik namun belum waktunya untuk ia katakan, atau was-was karena dia tak ingin menyakiti perasaan seorang adam yang fakir ilmu ini. Hipotesis lagi dan lagi dalam otak ini, duh pikiran hawa bisakah ada yang meminjamkan ads subtitlenya -____-”

Yah, setelah bertemu kira-kira 2 jam yang 1 jam lebih dikit diisi saya curhat mengenai ini dan sisanya baru job hahaha. Berakhir saran dari beliau dan saya sepakat, bahwa rasamu dijalanin dengan baik dan benar. Ikuti aturan mainnya si hawa jika itu adalah pilihanmu. Toh, kamu dan si hawa hanya cukup taat sama pilihan dari-Nya jak.

Dan ditutupi dengan kalimat “Sukses jak, mba doakan yang terbaik. Mba setujuin kalian banget loh”

Duh makin geer dah hati yang rapuh dengan sebuah harapan ini -.-”

#abaikan #abaikan ~

Sengaja

Kemarin, tepat satu bulan. Satu bulan aku membuka tabir kejujuran padanya untuk dapat menghilangkan rasa berharap dalam setiap doa-doaku. Aku takut mencemari doa yang sesungguhnya, atau sering disebut doa memaksa. Aku tau, Allah SWT sangat menginginkan hambanya berharap. Berharap dengan berjuta-juta keinginan dengan keyakinan hanya Allah yang bisa mengabulkan. Sebuah ibadah keyakinan. Tetapi berbeda dengan tabir ini, aku selalu menyebut namanya dalam doa. Aku belum bisa ikhlas saat tabir ini tak segera dibuka. Dan sebulan yang lalu kamu pun tau, dan saat itu aku bisa beribadah ikhlas kembali kepada-Nya.

” Kenapa tiba2 tanya? ” sahutmu di japrian whatsapp kemarin siang.

Pembicaraan kita saat itu mungkin masih dalam atmosfir bahagia, bayangkan saja isi japrian kita saat itu adalah pembullyan aku (lagi). Seperti biasa, moment ini selalu ada, karena saat itu saat senyum kita sama-sama terlukis di wajah. Cara yang unik, ternyata.

Dan semoga saja, sama-sama tertawa saat itu ketika sama-sama membaca isi japrian kita bukanlah kepalsuan, karena aku tidak bisa mevalidkan melihat kamu tertawa. Dunia sudah berubah, dunia sekarang hanya cukup dengan melihat layar dan diwakilkan emoticon untuk menyampaikan apa yang dirasa. Jujur. Aku lebih senang dibully langsung dihadapanmu. Karena aku bisa tau kejujuran raut wajahmu. hahaha..

” Karena saya baru tau Allah dan Rasul gak suka **, boneka cuman diperbolehin buat yang masih anak kecil. Dan ***** mah kan udah gede ” jawabku atas pertanyaan singkatmu yang disertai kejujuranmu.

Kamu pun menjawabnya dengan santainya ” Yaudah udah dikasih, udh jadi hak sy kan? “. Kamu masih aja bisa respect walaupun itu hal yang kamu benci.

Sengaja…

Sengaja aku menanyakan setelah satu bulan berlalu, setelah kamu tau bahwa aku belum sepenuhnya mengetahui hal-hal yang kamu tidak suka. Bahwa aku masih belajar dan akan selalu belajar mengurangi dosa-dosa yang ada dan tentunya belajar mengenal-Nya dengan detail, jelas hingga sangat sangat mencintai-Nya.

Maafkan akan kecerobahan dengan kedangkalan ilmuku.. semoga sebulan yang lalu bukan menjadi hari terburukmu selama 21 tahun berlalu di tanggal yang sama setiap tahunnya. maaf.

Cinta, Cinta, dan Cinta.

Cinta itu kotak, adil di tiap sisinya. Cemburu itu segitiga, tajam di tiap sisinya. Dan Rindu itu lingkaran, tak berujung rasa itu merasuki hidup.

Ah.. jika cinta adalah pengorbanan tertinggi. Jadi, mungkin dan emang seharusnya saat ini saya harus mencintai skripsi saya dengan sungguh-sungguh..

Wahai waktu, berilah diri ini waktu untuk merasakan GSP dan menapaki masa depan yang akan selalu bersamamu. Dan berilah diri ini waktu bernafas sejenak, jika aku terlalu memforsir badan kembali. Sudah tau ada penyakit, kamu tau waktu.

hahahay, tulisan wordpress ini berpindah lah ke word microsoft -.-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.