Beberapa jam yang lalu, tepatnya jam 10.30 WIB tak disangka akan menjadi kejadian yang ‘memalukan’ bagiku. Bagaimana tidak malu, berada dalam satu ruangan yang isinya 3 orang tua saya di kampus, yang dari ketiganya dalam beberapa hari kedepan saya akan mengikuti ujian remedial beliau-beliau.

“ Wah ada eja, bagaimana ja siap untuk remed besok? “ timpal dosen pertamaku yang juga menjadi dosen pembimbing Skripsweet ini.

“ Hmm.. ini tujuan saya sih bu datang kemari, ingin menanyakan kesalahan saya dalam mengerjakan soal ujian kemarin “ Kilah saya, yang sebenarnya tujuan menjumpai beliau hanya untuk mendapatkan tanda tangan proposal Skripsweet yang akan saya ajukan beberapa hari lagi. Biasa urusan birokrasi jurusan.

Segepok amplop yang berisi ratusan kertas polio bergaris pun beliau berikan, dan dengan cekatan saya pun mencari hasil ujian saya. Dan alhasil, sesuai dugaan nilai yang akan terpampang. Pantasan nilai saya tidak beranjak dari D jika masih saja mendapatkan nilai seperti itu.

Saya pun terdiam sejenak, dikala beliau sedang sibuk mengurusi urusan jurusan yang akan menghampiri akhir tahun, biasa pembukuan akhir tahun. Saya pun tak berharap beliau mau menjelaskan kesalahan saya dimana.

Namun.. tak disangka. Mungkin efek semalam memimpikan pendadaran *sebenarnya tidak ada hubungannya sih* , beliau menawarkan diri terlebih dahulu untuk mengajarkan private soal kemarin di ruangannya. Dan ternyata hanya butuh 30 menit mengerjakan 2 soal yang kemarin saya kerjakan bisa mencapai 1 jam lebih, tertawa mirispun saya lakukan diruangan itu. Sudah jatuh ketimpa rumah. Selama ini saya belajar apa toh, sampai tak mengerti dengan mudah, atau sayanya yang kebanyakan dosa, jadi tertutup ilmu-ilmu kece ini.

“ Nah, mudah toh ja. Masalahmu itu kurang latihan aja ja. Ini pemodelan sederhana, rumusnya pun gampang diinget kan? “ celetuk beliau.

“ hehe.. iya bu.” senyuman malu pun muncul beriringan kedua dosen lainnya masuk ke ruangan untuk mengurusi urusan jurusan yang dibersamai peluru pertanyaan yang tidak hanya sekali diajukan.

“ Nah, ini eja mumpung disini. Bagaimana proposal Tugas Akhirmu? Sudah tinggal masuk pengajaran? “ ini pertanyaan pertama.

“ Untuk matakuliah Perpindahan Panas Dan Massa besok udah siap? open book kok “ ini pertanyaan kedua.

“ Ini eja juga jangan lupa ujian Rangkaian Listrik dan Teknik Kontrol Otomatisnya yaa “ ini pertanyaan ketiga

“ Eja, mau foto seperti ini gak ? *nunjukin foto pak dosen dengan background tulisan Wisuda Teknik Fisika Periode Agustus 2015* “ ini pertanyaan keempat

Kalau saja pertanyaan-pertanyaan ini berupa tawaran ajakan traktiran makan, saya akan menjawab dengan sangat cepat tanpa menunggu jeda. Namun pertanyaan ini, yang lagi saya hindari atau malah tak ingin diingat terlebih dahulu, daaan tentunya dengan wajar dan spontan saya hanya tersenyum tanpa kata untuk menanggapi pertanyaa-pertanyaan itu sebagai ajang formalitas menghargai, walaupun sesungguhnya hati bersedih dengan alasan yang selalu sama, kenapa saya selalu diuji coba di bagian akademik saya, karena untuk satu ini saya selalu kalah, selalu tak bisa mengontrol emosi.

Dengan spontan pun saya memasuki penjelasan kertas-kertas yang sempat dosen pertama jelaskan kedalam tas, sebagai tanda untuk meminta ijin keluar ruangan segera. Namun ternyata Allah berkata lain..

Semua dosen yang hampir dalam waktu bersamaan berkata dengan makna yang sama walaupun beda redaksi yang disampaikan, “ Eja sukses, lulus november pasti bisa, remed ibu doakan lancar, jangan lupa belajar ja “

Dan saat itu pula, saya mau untuk berbicara. Terima kasih pak bu, saya sehabis ini akan ke perpus pusat untuk belajar dan mengerjakan skripsi saya.

Yang awalnya tadi berniat ke kampus hanya untuk mendapatkan tanda tangan dan setelah itu ingin berleha-leha di kontrakan. Namun Allah berkehendak lain. Aura skripsweet ini pun muncul kembali, dibersamai doa-doa yang telah dititipkan ke saya untuk segera jadikan nyata doa tersebut.

Benar kata seseorang,

Jika ingin skripsweetmu selesai, maka datangi tempat asalnya, ya itu di kampus bukan di kontrakanmu. Sama seperti analogi, kalau mau harum mainnya sama penjual parfum bukan sama penjual tukang besi

bismillah, semoga selalu terjaga semangat ini. dan beliau-beliau selalu berada dalam penjagaan-Nya. Amiin.

Perpus Pusat UGM, 10 Agustus 2015
Bersama naskahku.

Advertisements