Awal Agustus 2014 yang lampau, menjadi titik pertemuan dirinya dengan sebuah makna melebur namun mewarnai.

Sebut saja negeri di atas awan, dan tentunya ini bukan negeri sebuah dongeng. Negeri ini nyata. Untuk menuju kesana saja dirinya harus memodifikasi kendaraan beroda duanya menjadi lebih ‘berat’. Jika tidak ia ubah, maka yang terjadi bisa saja masuk jurang, terpeleset hingga harus menemani kendaraan beroda motornya dengan berjalan menanjak jalanan yang melebihi sudut 60 derajat, tidak hanya satu tanjakan, namun berpuluh-puluh. Sungguh, perjuangan ini bukan hanya saja mengawali memasuki negeri ini. Masih banyak yang harus ia lalui, salah satunya ketika Agustus 2014 menyapa. Tetapi dirinya bahagia selalu merindukan masa-masa ini. Yang ia sebut pengabdian kampus, kuliah yang selalu ingin ia ulang di setiap tahunnya.

“Eh, besok sudah masuk awal agustus nih, kita harus nyiapin apa saja buat bertemu dengan 17 nanti ?”

“Bagaimana kalau kita list dulu aja, mau diadakan perang apa saja di negeri ini? Yaa.. tentunya menghasilkan perdamaian abadi setelah kita meninggalkan negeri ini”

“Boleh-boleh.. tetapi jangan lupa, kita harus sowan terlebih dahulu di setiap pemimpin suku disana. Bayangkan saja, kita kesini dengan persediaan bekal yang tak banyak, hanya cukup berduapuluh. Pas dengan jumlah satu tim kita yang ada diatas awan ini“

“Okee.. kalau begitu, mas eja, adhi, bang jo dan acil ke pemimpin suku Debul-Bledeg. Cukup lumayan jauh kesana, kita harus berjalan mendaki melewati lembah, air terjun dan tentunya membawa satu orang yang menjadi ustadz.”

“Ustadz? Emang kenapa harus menjadi ustadz? Dan apakah di tim kita ini memiliki tampang ustadz? Sadarkan kita teman-teman, muka kita muka berandalan semua, bagaimana caranya menjadi ustadz?

“Hmm.. saya mendengar suku diatas sedang mencari ustadz yang mengimami shalat jum’at disana dan tentunya sepaket dengan khutbahnya. Dan inilah momentum merebut simpati si pemimpin suku. Bagaimana bang jo saja? tinggal pakai baju koko dan sarung yang ada di masjid sebelah tuh, lalu dirapihkan sedikit rambutnya. Bagaimana bro? “

“ Eehh.. kok gue toh? loe semua tau kan, gue ini perokok berat, Mana mudah orang-orang disana percaya begitu saja dengan penampilan begini. Walaupun sebenarnya, sebulan disini sudah membuat gue cinta sama negeri ini, mulai dari warganya hingga alam yang terhampar indah ini. Kalau bisa gue bilang, gue ingin juga menancapkan kebaikan disini walaupun sepele. Bayangin saja, kemarin gue hampir saja masuk jurang, kalau tidak ada si Ali, anak dari penjaga negeri ini, mungkin gue bener-bener sudah ‘diatas awan’. “

Nah! Pas kan bang, di atas lagi butuh yang jadi imam shalat dan khutbah. Nanti shalat, bacanya salah dua surah sakti saja. Itu tuh 3 surah paling akhir di Al-Qur’an, pahalanya gede loh bang walaupun sangat kilat pas dibaca. Terus, pas khotbah, isi aja pengumuman perang yang ingin kita lakukan, bawa ke arah solidaritas 17 di bulan Agustus ini, gampang kan bang? setengah jam gak sampai kok. Yayaya, abang tertua kita pasti mau berkorban buat adek-adeknya ini.”

“Baiklah kalau mas fajar* yang meminta, gue minjem buku-buku sakti loe yang katanya turun temurun dari kakek loe. Gue mau baca-baca sebentar untuk nambah kata-kata keren pas khotbah, siapa tau nambah simpati si pemimpin suku Debul-Bledeg itu”

“ Sip bang, ambil aja sesuka abang. Saya merekomendasiin buku yang berjudul “ Menjadi Aktivis, Kenapa Harus Gue? “ karya Riziki Ageng Mardikawati. Recomended deh bang buat nyari kata-kata ketjeh disana”

“ Oke mas, habis rapat ini, jangan ada yang ganggu gue sampai besok yaa.. Gue mau semedi dulu, hari jum’at itu 2 hari masalahnya bro. “

“ Siap bang, kerjaan abang selama semedi, saya yang kerjain deh, disambi nyiapin persiapan perang lainnya”

Salah satu mata dirinya pun mengedip ke fajar, pertanda rekayasa diantara keduanya berhasil. Rekayasa ingin mengubah teman-teman setimnya ini menjadi lebih baik saat pulang dari negeri diatas awan ini. Yang kami sebut, misi tambahan.

terkadang -seharusnya-, kita harus membangun citra dipercaya terlebih dahulu agar apa yang kita sampaikan tak akan mudah orang lain sanggah. Dan ini seharusnya yang terus-menerus dilatih oleh yang memiliki semangat perbaikan, sebut saja aktipis dakwah. Dan saya masih ingin belajar dan diajari hal ini oleh-Nya.

sebuah kisah nyata yang difiksikan, perjalanan Kuliah Kerja Nyata yang selalu diri ini rindukan.

15 Agustus 2015, 3:13 WIB , Yogyakarta

© ejak

Advertisements